Seputar Peradilan

PA Bogor Kembali Memetakan Kekuatan dan Kelemahannya

IMG 0047

Untuk meningkatkan penerapan sistem penjaminan mutu, Pengadilan Agama Bogor kembali memetakan isu-isu internal dan eksternal agar lebih memahami organisasi dan konteksnya.

Pemetaan isu-isu internal dan eksternal itu dilakukan dengan cara mengadakan analisis terhadap kekuatan (strenght), kelemahan (weakness), peluang (opportunity) dan threat (ancaman) atau lebih dikenal dengan istilah SWOT.

Pada tahap awal, dipimpin oleh Wakil Ketua PA Bogor Dr. H. Muslikin, M.H., Senin (8/10/2018) pagi, para hakim, tenaga kepaniteraan dan tenaga kesekretariatan PA Bogor mengisi kuesioner SWOT. Terhadap tiap-tiap pernyataan, responden diberi lima pilihan opini, yaitu tidak setuju (1), kurang setuju (2), cukup setuju (3), setuju (4), dan sangat setuju (5).

Hasil pengisian kuesioner itu selanjutnya dihimpun dan dianalisis. Dari situ akan diketahui aspek-aspek apa saja yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman beserta urgensi atau prioritasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua PA Bogor menekankan pentingnya melakukan manajemen risiko, dimulai dari identifikasi, pengendalian, penanganan hingga pemantauannya.

Ia memberi contoh beberapa layanan inti PA Bogor. Jika tidak dikelola dan diantisipasi dengan baik, layanan-layanan tersebut berisiko akan mengalami keterlambatan yang dampaknya merugikan masyarakat pencari keadilan.

Sebagaimana analisis SWOT yang dimulai dengan pengisian kuesioner, pemetaan dan pengendalian risiko di PA Bogor juga dimulai dengan pengisian kuesioner. Para responden diminta mengisi matriks yang kolom-kolomnya terdari dari nomor urut, risiko, sebab, dampak, fruekuensi, tingkat keparahan, tindakan dan penanggungjawab.

Agar hasilnya komprehensif, tiap-tiap responden diminta menuliskan sekurang-kurangnya tiga risiko yang dihadapi atau kemungkinan akan dihadapi, terkait dengan tugas pokok dan lingkungan kerjanya.

 

Admin : HH